Sebuah introspeksi diri dan wacana fatwa MUI tentang haram rokok

Mengkritisi sebuah siaran infotainment di salah satu televisi swasta tentang sebuah wacana fatwa MUI mengenai haramnya rokok bagi yang berusia 18 tahun ke bawah, membuat banyak orang yang menanggapi secara pro dan kontra. Sebuah dilematis tersendiri dimana seakan-akan dosa itu mengenal usia.

Sebelumnya mari kita bersama-sama kembali mendalami tentang rokok dan hukumnya di dalam Islam.

Rokok dan kandungannya….

Berikut ini adalah gambar dari kandungan dalam rokok :

 

Sedangkan racun utama pada rokok dan asap rokok adalah :

          Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru

          Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini juga bersifat karsinogen dan dapat memicu kanker paru-paru

          Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen sehingga tubuh menjadi kekurangan oksigen. Padahal oksigen disini sangat diperlukan  dalam kehidupan sel tubuh manusia.

Perlu diperjelas disini bahwa yang dimaksud dengan zat adiktif itu sama dengan candu. Orang yang mengkonsumsi zat ini akan membuatnya ketagihan/kecanduan dan menambah dosis/jumlah yang dia butuhkan.

Nikotin berpengaruh terhadap kepuasan di otak yang menyebabkan perokok terangsang pada tingkatan awal. Nikotin meningkatkan dopamine yang berhubungan dengan pusat emosi di otak. Sehingga banyak perokok yang seakan-akan merasa tenang, mendapat inspirasi setelah merokok atau menghilangkan stress. Tapi perlu diingat disini bahwa nikotin juga menyebabkan peningkatan denyut jantung, kontriksi (pengecilan) pembuluh darah dan kenaikan tekanan darah, serta peningkatan kepekatan asam lemak dalam darah yang menyebabkan sumbatan pembuluh darah arteri.

Beredarnya rokok dengan kadar nikotin rendah di pasaran, tidaklah menyelesaikan permasalahan karena nikotin ini merupakan zat adiktif, sehingga untuk mengikuti kebutuhan akan zat adiktif ini, seorang perokok justru cenderung menghisap roko lebih dalam, lebih keras dan lebih lama.

Ada sebuah istilah bijak tentang rokok bahwa Tidak ada batas aman bagi perokok dan bagi orang yang terpapar asap rokok.

Tar  apabila masuk ke dalam tubuh akan diubah oleh hati menjadi epoksida yang sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perubahan pada struktur DNA sehingga pertumbuhan sel menjadi tidak normal.

Vinyl chloride, benzo (a) pyrenes dan nitroso-nor-nicotine merupakan zat-zat karsinogen (pemicu kanker) yang terkandung dalam rokok. Survey dalam beberapa dekade menunjukkan bahwa satu-satunya penyebab mayoritas kanker paru-paru adalah asap rokok. Berikut ini adalah grafik-grafik dari berbagai penelitian menunjukkan korelasi positif dan sangat konsisten bahwa satu-satunya penyebab kanker paru-paru secara umum adalah konsumsi rokok (lihat file rokok21)

Kematian yang terjadi karena penyebaran kanker melalui peredaran darah sehingga posisi paru-paru menyebabkan kanker mudah menyebar ke seluruh tubuh.

Inilah data-data yang ada tentang rokok dan kandungannya.
Sekarang mari kita bersama-sama mendalami tentang hukumnya di dalam Islam

Berawal dari hadist :

“Setiap yang memabukkan itu adalah haram” H/R Muslim.

“Setiap sesuatu yang memabukkan maka bahan tersebut itu adalah haram”. H/R al-Bukhari, Muslim dan Abu Daud.

“Apa saja yang pada banyaknya memabukkan, maka pada sedikitnya juga adalah haram”. H/R Ahmad, Abu Daud dan Ibn Majah.

Rokok tidak dikenal dalam zaman Rasulullah, tidak seperti arak, tapi bukan berarti kita tidak menganalisis tentang kandungan rokok. Di atas telah diterangkan tentang nikotin dalam rokok yang merupakan zat adiktif/candu yang merupakan sejenis zat kimia yang memabukkan. Setiap yang memabukkan apabila dimakan, diminum, dihisap atau disuntik pada seseorang maka dikategorikan sebagai candu.

“Pasti akan berlaku di kalangan manusia-manusia dari umatku, meneguk (minum/hisap/sedut/suntik) arak kemudian mereka menamakannya dengan nama yang lain”. H/R Ahmad dan Abu Daud.

Memanglah rokok dan arak tidak sama pada ejaan dan rupanya, tetapi hukum dari kesan bahan yang memabukkan yang terkandung di dalam kedua-dua benda ini (rokok dan arak) tidak berbeda di segi syara karena kedua benda ini tetap mengandungi bahan yang memabukkan dan memberi kesan yang memabukkan kepada pengguna.

“Sesungguhnya syaitan termasuk hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar/arak dan judi itu dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mau berhenti?”. Al Maidah:91.

Ada yang beranggapan bahwa rokok setaraf klasifikasinya dengan arak boleh dijadikan obat untuk mengurangi rasa tekanan jiwa, tekanan perasaan, kebosanan dan mengantuk. Sebenarnya rokok tidak pernah dibuktikan sebagai penawar atau dapat dikategorikan sebagi obat karena setiap benda haram apabila dibuktikan mengandung bahan memabukkan tidak akan menjadi obat, sebagaimana hadits Nabi s.a.w: “Telah berkata Ibn Masoud tentang benda yang memabukkan : Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan obat bagi kamu pada benda yang Ia telah haramkan kepada kamu”. H/R al-Bukhari.

“Sesungguhnya arak itu bukan obat tetapi penyakit”. H/R Muslim dan Turmizi.

Dari data-data diatas telah tampak jelas bahwa rokok beserta kandungannya tidak membawa efek positif  bagi umat manusia justru menjadi mudharat dan harus kita tinggalkan.

Apakah kamu tidak mau berhenti?”. Al Maidah:91.

Mari kita sama-sama introspeksi dan menilai secara obyektif tentang hukum rokok.

Apakah kita akan mendukung fatwa MUI tentang haramnya rokok bagi yang berusia 18 tahun ke bawah? Lalu bagaimana dengan perokok yang berusia di atas 18 tahun?

Apakah kita harus terus berdiam diri saat di samping kita atau di sekitar kita ada orang yang merokok? Apakah kita mau menjadi perokok pasif? Apakah kita mau dirugikan oleh orang lain yang jelas-jelas merugikan kesehatan kita?

Pro dan kontra terus mengalir diiringi kebijakan-kebijakan. Industri rokok yang terancam musnah diikuti dengan polemik adanya banyak pengangguran. Polemik yang dibuat oleh sebagian yang tidak bisa lepas dari candu rokok. Polemik yang dibuat oleh sebagian yang merasa terganggu oleh asap rokok. Polemik tentang….

Mari kita sama-sama berpikir dan tegas terhadap apa yang baik untuk kita dan lingkungan kita. Masih perlukah fatwa MUI bila kita sendiri sudah bisa menentukan tentang hukum rokok dan mengambil keputusan terbaik dalam kehidupan kita.

Allohu a’lam. 

 

 

One thought on “Sebuah introspeksi diri dan wacana fatwa MUI tentang haram rokok

  1. yeah, bloknya bagus mbak. Kayaknya sudah sepantasnya jadi ustadzah, selain jadi dosen fk uii. tulisan-2, baik ilmiah kedokteran maupun agama, sudah siip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s