PENGGUNAAN OBAT BEBAS PADA KEHAMILAN

Obat bebas adalah obat jadi yang dapat diperoleh secara bebas, tanpa resep dokter. Penggunaan obat bebas harus tepat, baik peruntukkannya (indikasi, jenis penyakit atau gangguan kesehatan yang diobati) maupun kondisi pasiennya agar dapat diperoleh efek yang diharapkan secara maksimal dan meminimalkan efek yang tidak diharapkan.            Penggunaan obat bebas pada wanita hamil harus memperhitungkan keberadaan obat di dalam tubuh janin karena beberapa jenis bahan aktif dalam obat bebas mudah diserap dan didistribusikan ke seluruh tubuh, termasuk janin di dalam kandungan. Keberadaan obat di dalam tubuh janin dapat menimbulkan efek yang merugikan pada janin dalam kandungan.

 OBAT NYERI

·        Paling aman untuk ibu hamil : Parasetamol atau acetaminophen. Efektif untuk nyeri yang tajam. Kerusakan pada hati akibat parasetamol hanya terjadi pada dosis besar (Katzung, 1998).

·        NSAIDs (Non steroidal anti-inflammatory drugs) : mefenamat, ketofenamat, indometasin, diklofenak, ibuprofen, ketoprofen, naproxen dan asetosal dapat menyebabkan efek samping lebih banyak daripada parasetamol, sebaiknya tidak digunakan pada wanita hamil apalagi tidak ada tanda radang atau inflamasi.

·        Asetosal atau aspirin jangan diberikan pada wanita hamil terutama hamil tua karena dapat menyebabkan ulkus lambung, nyeri ulu hati dan menghambat pembekuan darah sehingga perdarahan sukar berhenti yang akan membahayakan wanita hamil pada periode dekat dengan saat persalinan (Hauth et al.,1995; Katzung, 1998; Macones et al., 2001).

·        Indometasin biasanya diberikan pada wanita hamil untuk nyeri leiomioma degeneratif atau sebagai tokolitik. Efek samping : dapat menyebabkan oligohidramnion dan penutupan duktus arteriosus lebih dini yang berakibat timbul hipertensi sirkulasi kecil (hipertensi pulmonal), nefrotoksik pada fetus dan hemoragia periventrikuler (Macones et al., 2001).  

OBAT PELEGA HIDUNG TERSUMBAT (DEKONGESTAN)

Pseudoefedrin jangan diberikan pada wanita hamil trimester pertama karena dapat menimbulkan gastroschisis akibat vasokonstriksi yang dapat berpengaruh pada aliran darah ke janin (Werler et al. 1992; Smith et al., 1990). Pseudoefedrin dapat digunakan pada wanita hamil asal tidak pada trimester pertama kehamilan (Black and Hill, 2003). 

OBAT ANTI ALERGI

·        Yang dianjurkan untuk wanita hamil : Klorfeniramin dan tripenelamin (Black and Hill, 2003).

·        Difenhidramin sebagai obat batuk akibat alergi tidak dianjurkan untuk wanita hamil pada trimester pertama karena dapat menimbulkan palatoschisis (Theis and Koren, 1997). Pada dosis besar, difenhidramin dapat meningkatkan kontraksi uterus (Brost et al., 1996).   

OBAT DIARE

·        Penggunaan kaolin, pectin dan atapulgit umumnya tidak memepengaruhi kehamilan. Tetapi penggunaan kaolin jangka lama dapat menghambat absorpsi zat besi sehingga dapat menimbulkan anemia (Patterson and Staszak, 1977).

·        Loperamid pada wanita hamil trimester pertama pernah dilaporkan insidensi malformasi jantung pada janin dalam kandungan (Thein and Koren, 1997; Briggs et al, 1998) 

OBAT MAAG

·        Antasida berisi campuran antara Alumunium hidroksida dan Magnesium hidroksida. Penggunaan alumunium hidroksida jangka lama dapat menyebabkan gangguan perkembangan janin dalam kandungan tetapi beberapa ahli menilai datanya tidak valid (Gilbert-Barness et al., 1998). Sedangkan magnesium hidroksida yang mempunyai efek tokolitik tidak merugikan kehamilan (Black and Hill, 2003).

·        Obat penghambat sekresi asam lambung golongan H2 blockers seperti simetidin, ranitidine, famotidin dan nizatidin).

5 thoughts on “PENGGUNAAN OBAT BEBAS PADA KEHAMILAN

  1. alu dr.noviana di jogjakarta,

    kalo dah terlanjur minum obat2an tertentu pada trimester pertama gimana ya?contohnya aq beberapa waktu yg lalu ke dokter THT di dagnosa penyumbatan saluran antara telinga tengah dengan perbatasan hidung dan mulut. di kasih obat rhinofed dan lameson. pada saat itu aq belum tau kalo hamil. kalo dihitung2 waktu aq konsumsi rhinofed umur kehamilan 4 minggu. sebaiknya gimana ya dok?terimakasih atas penjelasannya

  2. Mbak Yuli,

    Aku dulu juga mengalami hal yang sama. Jadi waktu kandungan umur 6 minggu secara belon tau kalo hamil, jadi aku makan antibiotik untuk sakit Typhoid yg lumayan keras loh… Tapi sekarang anak ku sehat2 aja kok nggak apa2… Karena menurut dokterku 3 bulan pertama itu bayi baru pembentukan, jadi masih dalam bentuk gumpalan daging, jadi kalau memang nggak tau yah nggak apa2, asal jangan keterusan ajah nanti bayinya bisa cacat.

  3. Mohon maaf karena saya baru bisa membalas komentar saudara karena kesibukan yang selalu menyertai…
    @ Mbak yuli dan Licke : Walaupun evidence based medicine mengatakan bahwa beberapa obat memang bisa menimbulkan efek negatif pada bayi terutama pada kehamilan awal, tetapi kita harus kembalikan segala sesuatunya pada Yang Di Atas.Kehamilan trimester pertama (0-3 bulan) merupakan proses dimana terjadi pembentukan organ-organ manusia. Disitu memang manusia masih dalam bentuk mini (sekitar segengam tangan) tetapi yg terpenting disini adalah saat itu sang janin sedang membentuk organ mata, telinga, jantung, dll. Sehingga menurut teori, diharapkan untuk meminimalisir konsumsi obat.Sekali lagi, dokter bukanlah Tuhan. Ilmu hanya semata-mata milik Alloh, manusia hanya diberi sejengkal untuk dipelajari. Masih ada kekuatan do’a disana. Do’a seorang ibu yang sedang mengandung memiliki kekuatan yang luar biasa dan akan didengar olehNya.
    semoga kita semua menjadi orang yang bisa berserah diri kepadaNya. Amin
    Demikian jawaban dari saya, bila ada pertanyaan atau masih ada yang kurang dari penjelasan saya, bisa ditanyakan lagi

  4. @Dwi : terapi anafilaksis? Maksudnya reaksi anafilaksis yah? Biasanya bila ada reaksi/syok anafilaktik, kita memang harus segera tangani karena ini termasuk kegawatdaruratan.
    Jika terjadi komplikasi syok anafilaksis segera penderita diletakkan pada alas yang keras, kaki diangkat lebih tinggi dari kepala. Posisi kepala diperbaiki sambil menarik rahang ke atas dan ke depan. Dalam waktu yang singkat (kurang dari 5 menit ) harus dapat dinilai keadaan jalan nafas dan sirkulasi.
    Kalau syok anafilaksis sudah sampai pada henti jantung (cardiac arrest) segera dilakukan bantuan hidup dasar (basic life support) sesuai dengan protokol resusitasi jantung paru. Selama resusitasi diberikan adrenalin 0,5 – 1 mg i.v. larutan 1 : 1000 tanpa pengenceran. Kalau hanya terjadi syok anafilaksis terapi farmakoligi pilihan ialah segera diberikan 0,3 – 0,5 mg adrenalin larutan 1 : 1000 untuk penderita dewasa atau untuk anak 0,01 mg/kg BB8. Adrenalin disuntikkan subkutan atau intra muskular untuk reaksi anafilaksis ringan, tetapi untuk. gejala-gejala yang hebat obat ini disuntikan intravena dengan larutan 1: 10000. Pemberian dengan cara intra trakea dapat pula dilakukan karena masa kerjanya hampir sama dengan intravena. Jika perlukan pemberian adrenalin boleh diulang setelah 5 – 10 menit. Penyuntikan melalui jalur intrakardia hanya dipertimbangkan bila cara intravena atau intratrakardia tidak dapat dilaksanakan di samping itu cara intrakardia yang kurang hati-hati memberikan komplikasi pneumotorak atau cidera arteri koronaria, dan penyuntikan yang langsung kedalam otot jantung sering menyebabkan aritmia.
    Dalam hal terjadi spasme bronkus di mana pemberian adrenalin kurang memberikan respons, dapat ditambahkan aminofilin 5 – 6 mg/kg BB i.v. dosis inisial diteruskan 0,4 – 0,9 mg/kg BB/menit dalam cairan infus.
    Kortikosteroid, misalnya hidrokortison 100 mg atau deksametason 5 – 10mg i.v. dapat diberikan sebagai terapi penunjang untuk mengatasi efek lanjut atau resisten.
    Kalau tekanan darah tetap rendah, berikan obat vasopresor dan pasang infus cairan dekstrose 5 % atau NaCI 0,9 %.
    Jika penderita tidak sadar dan masih bernafas spontan adekuat, letakkan ia pada posisi garis lurus telentang atau pada posisi sisi mantap. Kalau penderita masih sadar dengan tanda-tanda syok pertahankan ia horizontal dan telentang dengan muka keatas dan tinggikan tungkai. Posisi kepala lebih rendah tidak dianjurkan. Berikan selimut tetapi tidak terlalu tebal agar tetap hangat.
    Syok anafilaksis yang disertai Edema laring dapat berakibat obstruksi nafas total atau parsial. Penderita dengan sumbatan jalan nafas parsial selain ditolong dengan obat-obatan juga harus mendapat bantuan nafas dan tambahan oksigen. Bantuan nafas bisa dilakukan dengan cara mulut ke mulut/hidung atau reservoir bag ke mulut /hidung dan alat bantu lain. Penderita dengan sumbatan jalan nafas harus segera ditotong lebih aktif lagi dengan cara intubasi endotrakea, krikotiromi atau trakeotomi.
    Dalam keadaan gawat penderita anafilaksis tidak bijaksana dikirim ke Rumah Sakit, karena dapat meninggal dalam perjalanan. Kalau hal ini terpaksa dilakukan, penderita harus dikawal oleh dokter atau perawat yang terampil menanggulangi. Posisi waktu dibawa tetap horizontal dengan kaki lebih tinggi, tidak boleh duduk. Infus sudah harus terpasang dan persediaan resusitasi serta alat bantu resusitasi disertakan dengan penderita. Kalau syok sudah teratasi jangan cepat-cepat penderita dipulangkan tetapi diawasi dahulu selama kurang lebih 4 jam.
    Untuk info lebih lanjut, bisa search di google dengan keyword terapi syok anafilaksis. Syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s