Sebuah polemik tentang Pembatasan Premium

Mulai tahun 2008, boleh jadi itu menjadi tahun terburuk bagi si empunya mobil pribadi. Sosialisasi pemerintah tentang pembatasan premium bagi mobil pribadi, sempat membuat banyak orang akan malas memakai mobil pribadi atau mungkin juga bisa berdampak pada penurunan drastis terhadap pembelian mobil.

Tapi apa itu semua bisa diartikan masyarakat jadi mau memakai apa yang dinamakan kendaraan umum? Di Jakarta baru-baru ini telah tersosialisasikan adanya bus way, sedang di yogyakarta akan disosialisasikan bus trans jogja, walaupun sekarang baru sampai tahap pembuatan haltenya. Mungkinkah masyarakat akan memanfaatkan ini semua? Seiring pemberitaan yang marak terjadi di jakarta, masyarakat disana awalnya sangat gembira dengan adanya bus way, bahkan sangat penuh antrian penumpang bus way. Tapi lama kelamaan, masyarakat yang tempat tinggalnya dilalui atau tidak jauh dari tempat pemberhentian bus way lah yang menjadi pelanggan setia. Mereka berpikir kalau terlalu jauh dari tempat pemberhentian, kan sama juga bohong karena setelah itu tetap harus pakai angkot atau ojek, dan itu berarti membutuhkan ongkos lebih.

Bagaimana dengan pemakaian sepeda motor? Boleh jadi itu alternatif terbaik saat ini. Tidak ada pembatasan premium, lebih cepat sampai, murah lagi. Sekilas kita mencoba melirik ke belakang, tahun 1950an, yogyakarta penuh dengan sepeda dan andong. Sekarang ini, tahun 2007, yogyakarta telah banyak sepeda motor berseliweran di jalanan, bukan tidak memungkinkan kalau tahun 2008 besok, di saat ada pembatasan premium akan mengakibatkan peningkatan pembelian sepeda motor. Itu berarti pula bahwa di jalanan nanti akan dipadati oleh para pengendara sepeda motor.

Nah… apa yang terjadi selanjutnya adalah tergantung dari etika para pengendara sepeda motor. Berapa banyak kasus kecelakaan lalu lintas akibat etika yang buruk dari para pengendara motor? Apa yang terjadi tahun 2008 bila jalanan telah dipadati sepeda motor? Kita sebagai masyarakat kecil  hanya bisa menunggu dan melihat, apa dampak terburuk dari pembatasan premium bagi mobil pribadi ini.

2 thoughts on “Sebuah polemik tentang Pembatasan Premium

  1. saya sedikit tersenyum liat opini sampeyan, dan kalo saya boleh berpendapat kira kira intinya begini:

    1. wong cilik naiknya bukan mobil mbak tapi sepeda, andong dan maksimal motor, kalo udah naik mobil namanya wong GEDHE bukan wong cilik lagi

    2. pembatasan buat premium motor gak perlu to mbak wong sak sugih sugihe sopir motor maximal ngisinya ya secukupnya tengkinya paling kalo bebek 3liter kalo motor lanang 5 liter udah mabok. Gak usah dibatesin juga gak bakalan lebih. Beda ama mobil yang suka minum dan suka kencing, ngombvene akeh ngusyuhe yo akeh isi 30 liter cuman buat 3-5 hari

    3. harusnya sampeyan mendukung program anti kendaraan bermotor terutama mobil yang boros bbm buat ngurangi dampak buruk bagi lingkungan dan kesehatan. itu yang bener heheheheh…. bisa juga malah sebaliknya sampeyan ngedukung program penggunaan bbm dengan boros biar lingkungan rusak, udara kotor dan tercemar lalu banyak orang sakit sehingga pendapatan meningkat

    4. opininya judulnya diganti aja jadi opini wong gedhe

  2. Jawab :
    Terima kasih banyak sekali atas komentar dari mas/mbak ?? aadi.
    Saya senang sekali karena ternyata ada yang mau membaca dan berkomentar terhadap tulisan saya.
    1. Mungkin persepsi saya dengan saudara ada sedikit perbedaan. Tapi itu tidak masalah karena memang pemikiran tiap orang itu berbeda. Yang dimaksud dengan wong cilik disini memang luas sekali artinya.Ada yang beranggapan seperti saudara tulis, tapi ada juga yang mengkategorikan wong cilik itu dengan rakyat biasa, tidak ada gelar pejabat atau wakil rakyat atau DPR atau dan lain sebagainya. Saya mengatakan ini sebagai opini wong cilik karena memang saya ini merasa sebagai wong cilik.
    Kalau anggapan saudara tentang wong cilik itu seperti diatas berarti saya justru semakin merasa bahwa saya ini memang termasuk wong cilik.
    Saya hanya semakin yakin bahwa stigma masyarakat terhadap dokter ternyata belum berubah. Masyarakat selalu memandang dokter itu kaya, pinter, dan tau segalanya.
    Mungkin saudara perlu lagi banyak memandang ke seluruh aspek kehidupan. Apakah seorang dokter itu memang harus kaya, pinter dan tau segalanya?Karena memang ada dokter yang memang dari sononya sudah kaya (Kaya kongenital/kaya bawaan), jadi sebelum jadi dokter pun memang sudah kaya dulu.
    Mungkin kita juga harus bersama-sama melihat lagi tentang kesejahteraan dokter-dokter di seluruh Indonesia. Saya hanya berusaha membuka pandangan/ opini masyarakat supaya lebih obyektif dalam memandang.
    2.Mungkin saudara perlu membaca ulang tentang artikel saya, karena ada mis persepsi disini.Artikel saya menuliskan tentang pembatasan premium untuk mobil pribadi. Saya sama sekali tidak menuliskan tentang pembatasan premium untuk motor. Mohon dicermati sekali lagi tentang artikel saya.
    3. Saya tidak pernah menuliskan tentang dukungan apa pun di artikel saya. Karena opini wong cilik ini sengaja saya usahakan untuk bersikap netral, tidak memihak kemanapun. Saya hanya mengutarakan apa adanya dan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Jadi mohon jangan disalah-artikan, karena saya berusaha untuk bersikap objektif.
    4. Saya tidak berani mengganti dengan opini wong gedhe karena saya memang merasa bahwa saya bukan wong gedhe.
    Demikian tanggapan dari saya. Bila ada kata yang kurang berkenan saya mohon maaf karena saya sebagai manusia biasa tak pernah luput dari salah.
    Saya masih menerima masukan dan saran dari saudara.
    Terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s